Drama Komedi Kolosal: Bawan Putih dan Nona Littula



Di negeri nan jauh, hiduplah seorang gadis yang dipanggil Bawan Putih.

Bawan Putih adalah seorang gadis cantik jelita nan baik hati. Namun, dia kehilangan orang yang sangat dicintainya, yaitu ibunya. Ketika ayahnya memutuskan untuk menikah lagi, dan pergi meninggalkan Bawan Putih, hidupnya semakin menderita. Dia selalu diperlakukan seperti pembantu oleh ibu dan saudara tirinya.

Namun takdirpun bicara, ada seorang pria baik yang mau mengajari Bawan Putih tentang cara meramu obat yang sangat ampuh untuk segala macam penyakit. Sampai Bawan Putih menjadi seorang peramu obat yang hebat. Namun, karena ibu dan saudara tirinya mengetauhi tentang kehebatan Bawan Putih. Mereka menyembunyikan Bawan Putih dan tidak mengijinkannya berkeliaran bebas.

Sampai suatu hari dengan tidak sengaja bertemulah Bawan Putih dengan pewaris tunggal sebuah keluarga Konglomerat di negera tersebut. Lalu, berceritalah orang tadi tentang penyakit yang dialami oleh neneknya. Bawan Putihpun membuatkan obat untuk sang nenek. Beberapa waktu kemudian, sang nenek sembuh dari sakitnya. Karena kebaikan hati Bawan Putih, pewaris tunggal keluarga Konglomerat tersebut menaruh hati pada Bawan Putih dan membawa Bawan Putih menuju Rumah Mewahnya yang bagaikan Istana untuk diperkenalkan dengan Ayah dan Ibundanya.

Namun cerita belum berhenti sampai disitu. Karena hal tidak terduga terjadi di Rumah sang Konglomerat…

(Di Ruang pertemuan sudah ada Ibu Presdir beserta Nona Littula yang duduk. Pengawal 1 dan 2 masuk ke arena)
Pengawal 1          : Bu Presdir, Tuan Muda sudah datang.
Bu Presdir           : Persilahkan dia masuk.
Pengawal 2          : Baik Bu Presdir.
(masuk Nakonda bersama Bawan Putih diiringi 2 pengawal)

Bu Presdir           :(berdiri lalu menunjuk Bawan Putih) Siapa perempuan ini, Nakonda?
Nakonda             : Ini adalah wanita yang akan menjadi istriku.
Bu Presdir           : Kau yakin memilih wanita seperti ini?
Nakonda              : Ya, kami sudah saling mencintai. (Bawan Putih dan Nakonda saling bertatap muka, berpegangan tangan, dan tersenyum.)

Bu Presdir           : Apa? Kau pilih perempuan seperti tampang pembantu ini? Apa kata Bu Nia?
Bawan Putih       : Apa kata dunia, Nyonya.
Bu Presdir           : Ya. Itu maksudku.
Nakonda              : Walaupun penampilannya seperti pembantu, tapi hatinya seperti emas 24 karat.
Bu Presdir         : Kau bilang hatinya seperti emas karatan? Tapi Nakonda. Bunda sudah menemukan pasangan yang cocok untukmu Nakonda. Dia adalah Nona dari keluarga Konglomerat yang memiliki perusahaan Jatuh Bangun.
Nakonda              : Tapi Bunda . . . .
Bu Presdir          : Dia adalah wanita yang sangat cantik. Lagipula dia adalah wanita yang baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung. Apabila perusahaan kita bersatu dengan perusahaan Jatuh Bangun, akan menjadi perusahaan yang sangat besaaar.
Nakonda              : Tapi aku sangat mencintainya, Bunda. Lagipula, berkat dialah nenek bisa sembuh dari penyakitnya.
Bu Presdir          : Tidak boleh! Pokoknya kau harus menikah dengan Nona Littula. Dan kalau karena itu alasanmu menikahinya. Maka, saya akan membayar berapapun yang kau minta untuk membalas kebaikannya.
Nakonda              : Hah? Littula? Lit-tula..Lit-tula..Lit. Nama yang aneh. Tapi aku tetap tidak mau.
Bu Presdir           : Harus mau! Pokoknya harus!
Nakonda             : Gak!
Bu Presdir           : Harus!
Nakonda             : Mau. Eh tidak mau!
Bu Presdir           : Dasar anak durhaka kau!
Nakonda             : Lho, kok jadi kaya Malin Kundang?
Bu Presdir           : Kurang ajar kau! Sudah membantah perintah orang tua! (Ibu Presdir hampir menampar Nakonda)

Nakonda              : (tangan Ibu Presdir ingin menampar Nakonda dengan slowmotion) Jangan….!
Pak Presdir         : (masuk ke arena) Stop..!! Ada apa ini? Siapa perempuan itu? (menunjuk Bawang Putih)
Nakonda             : Ini adalah calon istriku, Ayah Panda.
Pak Presdir       : Oh, ini calon istrimu. Jadi perempuan ini yang menyembuhkan ibuku? Terima kasih calon menantu…(datang menghampiri Bawang Putih dengan wajah gembira dan mencoba memeluknya )

Bawan Putih      : Stop! Bukan muhrim.
Nakonda              : Iya, Ayah Panda. Ayah Panda bisa memeluknya setelah kami diijinkan untuk menikah.
Bu Presdir           : Tapi aku sudah menemukan jodoh buat Nakonda! Dia adalah Nona dari pemilik perusahaan Jatuh Bangun.
Pak Presdir         : Haduh, pilih yang mana ya? Saya galau..!! Ya sudah. Itu terserah Nakonda saja!
Bu Presdir           : Tapi, suamiku. Aku tidak setuju dengan keputusanmu. Masa Nakonda menikah sama pembantu seperti itu. Jangan gila donk!
Pak Presdir         : (berfikir sejenak) Ya. Sudah. Bagaimana kalau kita adakan suatu kompetisi?
Nona Littula        : (berdiri) Kompetisi seperti apa, Pak Presdir?
Pak Presdir         : Kalau kau menang dalam kompetisi itu, kau yang akan menikahi Nakonda. Kalau perempuan itu yang menang, dia yang akan menikah dengan Nakonda. Ada yang tidak setuju dengan kuputusanku?
Bu Presdir           : Lagi-lagi kau memberikan keputusan yang aneh!
Nona Littula        : Baiklah kalau begitu, saya terima, Yang Mulia.
Bu Presdir           : Apa? Kau terima tantangan aneh itu? (marah)
Nona Littula        : Sudahlah Bibi. Saya bisa bersaing secara sportif.
Bu Presdir           : Apa?? Kau panggil aku Bibi? Memangnya aku bibimu apa? (semakin marah)
Nona Littula      : Oh! Maksudku Bu Presdir. Lagipula saya yakin saya bisa mengalahkan perempuan itu.
Bawan Putih      : (mengacungkan tangan)
Pak Presdir         : Ada apa, Nona? Kau tidak setuju dengan keputusanku?
Bawan Putih      : Saya setuju dengan keputusan Tuan.
Pak Presdir         : Lalu, kenapa kau mengacungkan tangan?
Bawan Putih      : Sebenarnya, saya keberatan dipanggil dengan sebutan perempuan itu. Saya kan juga punya nama.
Pak Presdir         : Oh ya. Kau belum memperkenalkan diri. Siapa namamu?
Bawan Putih      : Namaku Bawan Putih.
Bu Presdir           : Bawan Putih? Bawang? Hahh.. Gadis dapur cobek. Nama yang paling aneh yang pernah kudengar. Lihat dirimu! Kau memang pantas mendapatkan nama itu!
Bawan Putih      : Sebenarnya itu cuma nama panggilanku saja. Nama itu diberikan oleh ibu dan saudara tiriku yang selalu jahat padaku.
Bu Presdir           : Bisa kali gak curhat !!
Pak Presdir         : Kalau begitu, siapa nama aslimu?
Bawan Putih      : Siapa aja ,, boleeeeeeeeh
Pak Presdir         : Wa wa waduuhhhh ,
Bawan Putih      : Iya iya. Nama asliku adalah Micha Claudia Abrabasa Bella Sinta Cornelius Protectus El Alfonso Equilis Da Barbara Margaretha.
Nona Littula        : Tapi, namaku juga tidak kalah panjangnya dengan Bawan Putih. Aku bisa menyebutkannya sekarang.
Pak Presdir         : Stop! Kenapa kita jadi mempeributkan nama?

(semua terdiam sejenak)

Pak Presdir         : Bagaimana denganmu, Nakonda? Kau setuju?
Nakonda             : hmmhhh setuju gak ya?? Huahhaaa... iya deh setuju aja.
Bu Presdir           : Apa? Kau terima juga keputusan aneh itu? Sedangkan kau membantah perintahku?
Pak Presdir         : Okelah kalau begitu, kompetisi dimulai besok pagi pukul 9.00 sampai dengan selesai.
Bu Presdir           : Tapi, kompetisi seperti apa suamiku?
Pak Presdir         : Kompetisi yang akan digelar yaitu Kompetisi Menjahit baju untuk Pewaris tunggal kita, Nakonda. Kalian siap?
Bawang Putih & Nona Littula : Siap, Pak Presdir.
Pak Presdir         : Ya sudah. Ku tunggu besok ya. Dah!
(semua hendak keluar arena, Nyonya Besar baru masuk ke arena)

Nyonya Besar      : Ada apa ini? (batuk-batuk kecil ) Kok tegang sekali.
Pak Presdir         :  Ibu telat, ayo keluar saja...
Nyonya Besar      : Tapi kan Ibu baru datang, masa di tinggal pergi.
(Ibu Presdir, Pak Presdir, Nona Littula, keluar arena. Bawan Putih keluar arena dengan bergandengan tangan dengan Nakonda. Pengawal 1,2 meningalkan arena duluan mendahului Nyonya Besar)
Nyonya Besar      :Eh, kalian ini. Tidak menghargai orang tua ya.. (tangan di pinggang)
Pengawal 1,2      :Terus, kita musti bilang wow gitu!
Nyonya Besar      : Eh.. Pengawal kurang di ajar! (berusaha mengejar 2 pengawal yang berusaha kabur)
(di sisi luar ruang pertemuan tadi, Ibu Presdir dan Nona littula berbincang-bincang )

Bu Presdir           : Kita harus menyusun rencana supaya Bawan Putih kalah dalam kompetisi itu.
Nona Littula        : Yess, I agree with you.
Bu Presdir           : Sini, saya bisikin.
Nona Littula        : Ih… Geli!
Bu Presdir           : Mau gak?
Nona Littula        : Iya, iya.
Nona Littula        : Itu ide berlian!
Bu Presdir           :Brilian.
Nona Littula        : Ya. Itu maksudku.
Bu Presdir & Nona Littula : Ha ha ha ha ha . . . .

(Ibu Presdir dan Nona Littula meninggalkan arena).

Keesokan harinya . . . .
(Pak Presdir, Ibu Presdir, Nyonya Besar, Nakonda masuk arena, duduk didampingi pengawal 1,2)

Pak Presdir         : Kalian sudah siap melaksanakan kompetisi?
Bawan Putih & Nona Littula : Ya iyalah . . . .(bertatapan muka dengan wajah sinis)
Pak Presdir         : Kompetisi ini yaitu kompetisi menjahit baju untuk Nakonda. Peraturannya sangat mudah. Kalian harus membuat sebuah baju untuk Nakonda dalam waktu satu malam saja. Baju yang kalian buat harus diserahkan besok pagi. Kalian mengerti dengan peraturannya?
Bawan Putih & Nona Littula : Mengerti, Yang Mulia.
Pak Presdir         : Sekarang, kalian bisa memulai pembuatan baju kalian.
Bawan Putih      : Baiklah Yang Mulia, kami berdua pamit sekarang.
(Bawang Putih & Nona Littula pergi meninggalkan arena disusul dengan yang lain)


Malamnya, Bawan Putih sedang menjahit.
(Bawan Putih masuk membawa kain dan berpura-pura menjahit di atas bantal, kemudian pengawal 2 masuk).

Pengawal 2         : (mengangkat telfon) Haloo… Oh iya, baik Tuan. Terima kasih! (menghampiri Bawan Putih) Nona Bawang Putih. Anda dipanggil.
Bawan Putih      : Dipanggil siapa ..??
Pengawal 2         : Yang Maha Kuasa, ya nggak lah. Dipanggil Pak Presdir nohh……..
Bawang Putih      : Oh, baiklah kalau begitu.

(menaruh kainnya di bawah meja lalu menutupinya dengan sebuah bantal, lalu keluar bersama pengawal 2 meninggalkan arena, kemudian datang Nona Littula bersama pengawal 1)

Nona Littula        : Dimana dia menaruh kainnya ea?? Pengawal!! Cepat cari dan harus ketemu!
Pengawal 1         : Eaaaa Nona Lit.
Nona Littula        : Lit! Lit! Lit! Emangnya saya Nona Sembelit! Panggil saya dengan nama panggilan dan ejaan yang benar. Udah! Ga usah banyak ngomong, cepet cari!!!
Pengawal 1         : Iya Nona, Littula..
 (Nona Littula duduk bertumpu kaki dengan mengipaskan kipas di tangannya, pengawal 1  mencari kainnya, lalu memberikannya kepada Nona Littula)
Pengawal 1         : Ini kainnya Nona Littula. (menyodorkan pada Nona Littula)
Nona Littula        : Hahaha . . .  Dengan begini. Kau pasti kalah, Bawan Putih. Ha..ha..ha..ha!
(meninggalkan arena, kemudian beberapa detik kemudian Bawang Putih datang diikuti dengan Pengawal 2).
Bawan Putih      : Tidak! Siapa yang berani melakukan ini? (mengambil kain yang telah dirobek) Aduh, pasti aku akan kalah dalam kompetisi ini. Apa yang harus kulakukan? (menangis, kemudian keluar arena meninggalkan pengawal 2 sendiri).
Pengawal 2         :Nona.. Jangan.. Menangis..!(nada “Timmy! Tanpamu aku galau!”)

Keesokan harinya . . . .
(Pak Presdir, Nakonda, Ibu Presdir, & Pengawal 1, 2 masuk)


Pak Presdir         : Akhirnya tiba saatnya untuk penentuan pemenang dari kompetisi ini. Kepada Nona Littula, silahkan masuk dan memperlihatkan baju buatannya.
(Nona Littula masuk sambil memperlihatkan baju buatannya)

Nona Littula        : Ini Yang Mulia. Ini adalah baju terbaik yang saya buat.
Pak Presdir         : Cukup bagus. Kalau boleh tahu, apa bahan yang kau pakai untuk membuat baju ini?
Nona Littula        : Baju ini dibuat dari berbagai macam kulit. Kulit unta, kulit pisang, kulit domba, kulit gajah, kulit cheetah, dan tak lupa juga ditambahkan dengan kulit kodok.
Nakonda             : Wow! Unik sekali!
Bu Presdir           : Tentu saja! Siapa dulu yang membuatnya? Nona Littula . . . .
Nyonya Besar      : (wajah meremehkan ) hah.. tega sekali menguliti kulit saudaranya sendiri.
Pak Presdir         : Baik-baik. Sekarang, tiba giliran Bawan Putih. Bawan Putih, saatnya kau masuk dan membawa baju buatanmu.
Satu jam kemudian . . .
(Bawan Putih tidak muncul-muncul)
Dua jam kemudian . . . .
(Bawan Putih tidak muncul juga)
Krik krik krik krik…….

Pak Presdir         : Kemana sih Bawan Putih itu? Kok belum muncul-muncul. Pengawal,  Cari Bawan Putih!
Pengawal 1         : Kapan Tuan?
Pak Presdir         : Tahun baru nanti saja, yah sekarang dong! Catat itu betul-betul.
(pengawal 1 dan 2 mengambil buku catatan kecil lalu mencatatnya)

Pak Presdir         : Ya ampun! Gag cocok ini! Cepat cari Bawan Putih sekarang!
Pengawal 2         : Baik! (pengawal 2 keluar diikuti pengawal 1)
Nona Littula        : Mungkin dia belum menyelesaikan baju buatannya. Atau mungkin dia sama sekali tidak bisa menjahit.
Pak Presdir         : Tunggu dulu! Pengawal kita kan sedang mencari dia. Pliss deh! Tunggu bentar dong ah!
Lima belas menit kemudian . . . .
Bawan Putih      : (datang tergesa-gesa dan pengawal menyusul di belakang dengan napas ngos-ngossan)Yang Mulia, maaf…saya terlambat.
Pak Presdir         : (melihat Para pengawal) Capek? Kasihan..!(melihat kearah Bawan Putih)Dari mana saja kamu Bawan Putih? Kami sudah menunggu kamu, Bawan Putih.
Bawan Putih      : Begini yang, seseorang telah merobek baju yang saya buat untuk Nakonda.
Bu Presdir           : Alaah! Paling itu cuma alasan kamu saja. Ya toh?
Bawang Putih      : Tidak! Semua itu benar apa adanya! Ini buktinya. Check It Out!
(menunjukan baju robek ke Pak Presdir dan kemudian ke penonton)

Bu Presdir          : Alah! Itu tidak benar! Swear deh!
Pak Presdir         : Sudahlah!
Nyonya Besar      : Tidak terhormat sekali dia yang melakukan ini, euh..
Nona Littula        : Tapi Ibu Presdir, bukannya kita yang merobek baju milik Bawang Putih itu? Alamaaak, keceplosan akuu..
Semua                 : Ooo…
Pak Presdir         : Jadi, kalian yang merobek baju Bawang Putih itu?
Bu Presdir           : Bukan aku! Itu Nona Littula! (menunjuk Nona Littula)
Nona Littula        : Tapi itu kan ide Ibu Presdir!
Bu Presdir           : Ih . . .  Kenapa kamu ngomong sih Lit? Haduuh…
Nyonya Besar      : Namanya juga Lit- tula,Lit.
Nakonda, Bawan Putih, Pengawal 1 & 2        : Ha . . Ha . . Ha . .
Pak Presdir         : Sudah-sudah! Jadi saya putuskan yang akan menikah dengan Nakonda adalah . . . . Bawan Putih!
Nona Littula        : Nakonda.. Tanpamu aku galau..!!
(Pengawal menyeret Nona Littula pergi)
Ibu Presdir          : (medekati Bawan Putih)  Dengan sangat berat hati, aku terima kau jadi menantuku, Bawan Putih. (kembali ke tempat semula)
Ibu Presdir          : Selamat Bawan Putih! Nenek sangat senang, akhirnya menantunya adalah penolong nyawanya. Terima kasih banyak Bawan Putih
Nakonda              : (Nakonda menghampiri Bawan Putih) Akhirnya kita bisa bersatu, Bawan Putih.
Bawan Putih      : Iya. Nakonda.
(Ibu Presdir, Pak Presdir, Nyonya Besar meninggalkan arena)
Nakonda              : Kita bisa memulai hidup baru tanpa ada yang menggangu. Aku tresno karo koe Bawan Putih….
Bawan Putih      : Kepriben iki? (ekspresi malu) iya. aku juga. Hihihihi . . .

Akhirnya, setelah kompetisi yang telah dijalani Bawang Putih. Nakonda diperbolehkan menikahi Bawang Putih. Mereka pun hidup bahagia selama-lama-lamanya . . . .



-                   S E L E S A I          -

Tidak ada komentar:

Vektor Ukuran Kecil Logo Sosial Media

   Twitter  Tiktok  Youtube  Pinterest  Instagram  Facebook