Kabar mengenai dunia otomotif
memang selalu menarik untuk diikuti. Bahkan, terkadang masyarakat luas juga tidak
mau ketinggalan perkembangan seputar otomotif. Banyak hal terkait otomotif yang
akan selalu berubah secara dinamis setiap saat, seperti inovasi teknologi, modifikasi,
city car, green car, produk mobil
terbaru, hingga perkembangan industri otomotif.
Dilihat dari data yang
dikeluarkan oleh Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) di
bulan Mei yang lalu, rasio jumlah kendaraan terhadap penduduk yakni 1:70, satu
mobil untuk 70 penduduk Indonesia. Tingginya tingkat pembelian kendaraan
bermotor, khususnya mobil inilah yang mendasari
PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia PT. Honda Prospect Motor, PT. Astra
Daihatsu Motor, PT. Suzuki Indomobil Motor, hingga PT. Mercedez-Benz Indonesia
mendirikan pabrik pembuatan mobil di Indonesia. Dengan dibangunnya industri mobil
asal luar negeri di Indonesia, maka nilai jual per unit mobil bisa ditekan. Tidak
mengherankan jika mobil buatan pabrikan Jepang di Indonesia menjadi primadona
penduduk Indonesia.
Tidak adanya pabrikan dalam
negeri sendiri, menjadi penyebab utama mengapa mobil pabrikan Jepang disusul Eropa dan Amerika begitu diminati di
Indonesia. Murahnya harga mobil pabrikan Jepang serta mudahnya memperoleh suku
cadang dengan harga yang terjangkau menjadi alasan utama mobil parbikan Jepang
menjadi primadona.
Banyaknya mobil buatan luar
negeri yang ada di dalam negeri membuat industri otomotif dalam negeri menjadi
sulit berdiri. Namun, bukan hal yang mustahil untuk mendirikan industri mobil
nasional di negeri sendiri. Adanya inovasi anak bangsa, seperti mobil Selo asal
Jogjakarta, menjadi bukti bahwa potensi Indonesia untuk menciptakan mobil
nasional sangatlah besar. Berdirinya pabrik mobil Esemka oleh PT. Solo
Manufaktur Kreasi (SMK) juga menjadi pertanda bangkitnya industri mobil
nasional. Tetapi, masih ada beberapa hal yang menjadi menghambat berkembangnya
mobil nasional di Indonesia.
Kuatnya Industri Mobil Luar Negeri di Indonesia
Kemunculan industri otomotif di
Indonesia tidak terlepas dari peran Jepang dalam investsi modal di Indonesia. Jepang
yang lebih dari 25 tahun bergerak di industri otomotif di pasar Asia-Pasifik, pada
akhirnya menjadikan Indonesia menjadi salah satu pasar potensialnya. Hal ini
terlihat dari beberapa produk otomotif asal Jepang yang mendominasi pasar mobil
dalam negeri, seperti Honda, Suzuki, Toyota, Mitsubishi, Daihatsu, Isuzu,
hingga Subaru. Pabrik pembuatan mobilpun dibangun Jepang di Indonesia dengan
harapan mampu memperkecil biaya produksi sehingga bisa memperkecil harga jual. Jadi
tidak heran, jika pabrikan mobil Jepang memiliki harga yang reasonable dengan kualitas yang sesuai
dengan ekspektasi penduduk Indonesia.
Meski memiliki pangsa pasar yang
relatif kecil dibandingkan Jepang, beberapa pabrikan asal Eropa, seperti BMW,
Mercedez-Benz, VolksWagen, hingga Mini juga ikut memasuki bursa mobil di
Indonesia. Meskipun pangsa pasar mobil Eropa tidak sebesar pabrikan Jepang,
tetapi beberapa sport car Eropa justru
dominan di Indonesia. Sebut saja Austin, Roll-Royce, Bugatti, Ferrari, hingga
Lamborghini menjadi primadona kalangan ekonomi menengah ke atas di Indonesia. Kini,
Mercedez-Benz dan BMW juga mulai melirik pengguna mobil kalangan ekonomi kelas
menengah dengan melakukan penelitian dan kajian substansial untuk menekan
harga, tetapi tidak sampai menurunkan kualitas dari mobil-mobil produksinya
sehingga mampu bersaing dengan industri mobil pabrikan Jepang.
Tingginya barrier wall yang diciptakan pabrikan mobil Jepang yang menguasai
pasaran mobil di Indonesia, membuat pabrikan mobil asal Amerika banyak yang
mulai mundur dari perindustrian mobil di tanah air. Sebut saja General Motors, Chevrolet,
disusul Ford yang akhirnya hengkang dari industri mobil tanah air karena
kuatnya persaingan harga dengan pabrikan mobil lainnya. Mahalnya harga spare part, bahan pembuatan body mobil yang mengedepankan kualitas
menjadi yang tidak bisa ditanggulangi. Akibatnya, mobil pabrikan Amerika
terkesan mahal dengan fitur yang standar. Meskipun begitu, kini masih banyak
pengguna mobil pabrikan Amerika karena beberapa masyarakat menganggapnya unggul
dari sisi safety, reliabilitas, hingga
material body.
Persepsi Masyarakat Indonesia
Tidak adanya produksi mobil
nasional yang asli dari dalam negeri menjadi pertanda bahwa industri mobil luar
negeri di tanah air telah mendominasi. Telah menguatnya brand image produk mobil pabrikan luar negeri, terutama pabrikan
mobil asal Jepang menjadi pengaruh persepsi masyarakat Indonesia bahwa produk
mobil luar negeri sangatlah bagus.
Keluarnya mobil Esemka karya anak
bangsa tahun 2012 menjadi tonggak bangkitnya industri otomotif dalam negeri. Terus
dikembangkannya mobil Esemka dengan dibangunnya beberapa model mobil lain dan
pabrik di Boyolali, Jawa Tengah menjadi keseriusan Indonesia dalam mengembangkan
mobil nasional. Tetapi, setelah mobil Esemka selaku mobil nasional ini telah
selesai dilempar ke pasaran, akankah masyarakat Indonesia mau menerimanya? Mengingat
kualitas yang disajikan oleh pabikan mobil asal Jepang kini telah memenuhi
ekspektasi dari pelanggan di tanah air.
Features yang mumpuni, harga yang bersahabat, dan harga resale value yang relatif tinggi membuat
pabrikan mobil asal Jepang masih laris. Kuatnya brand image yang tertanam lebih dari 25 tahun tentang kualitas
mobil komersil keluaran Jepang tentu tidak mudah diruntuhkan. Perlu usaha
ekstra keras dari poduk mobil nasional dalam bersaing degan mobil pabrikan luar
negeri di negeri sendiri. Meskipun harga mobil Esemka sebagai mobil nasional dibanderol
murah bila dibandingkan mobil pabrikan luar negeri, jika tidak diikuti dengan
pelayanan, warranties, serta kualitas
yang mumpuni, tentu akan kalah bersaing di negeri sendiri.
Penelitian dan Pengembangan Mobil Nasional
Standar kualitas dari mobil
pabrikan Jepang tidak terlepas dari panjangnya penelitian dan pengembangannya
selama berpuluh-puluh tahun. Tukar informasi, pertukaran teknisi, hingga akuisisi
dengan beberapa pabrikan otomotif Eropa menjadi beberapa langkah kesuksesan industri
otomotif Jepang. Tidak hanya Jepang, Malaysia dalam pengembangan mobil
nasionalnya, Proton, juga bekerjasama dengan Porsche. Tidak ada produk kelas
dunia tanpa investasi yang tinggi, salah satunya dengan proses penelitian dan
pengembangan.
Begitupun seharusnya proyek industri
mobil nasional Esemka dijalankan. Mengingat masih barunya industri mobil
nasional di Indonesia, tentu memerlukan banyak penelitian dan pengembangan
lebih lanjut. Dari Kementrian Perindustrian RI mengabarkan, akan adanya
kerjasama teknis dengan BMW dalam pengembangan produk Esemka ke depan. Meskipun
menghabiskan sejumlah waktu dan modal, tetapi manifestasi produk kualitas
global dari mobil nasional Esemka tentu menjadi bayaran yang sesuai.
Modal Industri Mobil Nasional
Adanya penelitian dan
pengembangan terhadap teknologi otomotif tentu memerlukan biaya yang tidak
sedikit. Manifestasi berupa kualitas mobil nasional yang berkualitas dan mampu
bersaing di tingkat global memerlukan modal materi dan non-materi yang cukup
besar. Jika dilihat dari beberapa proyek pengembangan industri mobil nasional,
seperti Esemka dan Selo, keduanya memiliki kendala yang sama dalam pengembangan
industri mobil nasional, yakni terkait modal.
Kurangnya kepercayaan investor
dan kreditur asing dan dalam negeri terhadap proyek mobil nasional menjadi
salah satu hambatan dalam memperoleh modal nyata. Adanya modal pengembangan dan
penelitian mobil Selo selaku mobil nasional low
cost green car (LCGC) sempat dihentikan karena adanya isu penyelewengan
dana yang menyeret Dahlan Iskan selaku Menteri BUMN kala itu. Tentu hal ini
sangat disayangkan, mengingat potensi mobil nasional non-BBM yang sangat tinggi
berkembang di Indonesia, bukan di negara tetangga.
Tetapi, semangat untuk
menumbuhkan industri mobil nasional di tanah air masih belum berakhir. Justru
semakin membara dengan beberapa isu yang menjatuhkan pengembangan mobil
nasional, seperti tidak berkualitasnya produk yang dihasilkan, kurangnya modal
dan tenaga ahli, hingga isu penyalahgunaan dana. Dengan dibangunnya pabrik
mobil Esemka di Boyolali dengan masukan dana dari beberapa investor dalam
negeri, serta terus dikembangkannya komponen, struktur, hingga model mobil
tersebut, bukan tidak mungkin jika 5 tahun ke depan, mobil nasional sudah bisa terlihat
di jalanan sepanjang Sabang sampai Merauke.
Dukungan Masyarakat Luas
Mulai berkembangnya industri
mobil nasional di dalam negeri, tentu menjadi harapan munculnya produk mobil
unggulan dari Indonesia. Selain itu, bangkitnya industri otomotif yang
memunculkan komponen mobil hingga teknisi tingkat dunia juga menjadi tujuan
akhir lainnya. Untuk mewujudkan harapan ini, perlu adanya dukungan dari semua
pihak, terutama segenap masyarakat Indonesia.
Jalan menuju munculnya mobil
nasional sebagai kebanggaan produk di Indonesia masih harus menempuh jalan yang
cukup panjang, terutama terkait pasar potensial. Munculnya mobil rancangan
modern, features yang sesuai dengan
ekspektasi konsumen, serta harga yang bersahabat dengan masyarakat Indonesia
tentu tidak cukup untuk memperluas pangsa pasar mobil nasional. Perlu adanya
dukungan aktif dari masyarakat yang ‘Percaya’ bahwa produk mobil nasional hasil
karya anak bangsa lebih baik dari mobil pabrikan manapun.
Adanya anggapan mobil pabrikan
Jepang, Italia, Jerman dan negara lainnya lebih bagus menjadi boomerang untuk mobil nasional pabrikan
dalam negeri. Jika hal ini tetap dibiarkan, maka bukan tidak mungkin usaha
dibangunnya industri mobil nasional menjadi kenangan belaka. Untuk mewujudkan berkembangnya
industri mobil nasional, adanya kebijakan dari instansi tertinggi, Pemerintah
Pusat dalam menggerakkan minat masyarakatnya terhadap mobil nasional sangatlah
penting. Salah satu caranya adalah dengan digunakannya mobil nasional sebagai
kendaraan khusus Pemerintahan di seluruh Indonesia.
Dengan begitu, kepercayaan
masyarakat terhadap mobil nasional pabrikan negeri sendiri terus berkembang. Disertai
dengan kampanye ‘Cintai Produk dalam Negeri’, tingkat kepercayaan masyarakat
terhadap produk dalam negeri sendiri juga akan semakin meningkat. Pada akhirya,
jika Pemerintah sebagai instansi penyelenggara negara saja ‘Percaya’ dengan
kualitas produk mobil nasionalnya, faktor apalagi yang diragukan untuk memilih
mobil nasional sebagai mobil yang dibutuhkan penduduk Indonesia?
By : Rena Cahya


Tidak ada komentar:
Posting Komentar